ID Desa
235
Kode Desa
35.20.16.2005
Kecamatan
Ngariboyo
Nama Desa
Sumberdukun
Nama Kepala Desa
Kamto S.sos
Kode Pos
63351
Telepon
Email
Alamat Kantor
Jln Raya Smberdukun Rt 01 Rw 01

Magetan smat

Desa Sumberdukun memiliki kisah yang unik pada awal pembentukannya, sebelum dusun Gentan, Juron, dan Dakutah menjadi satu menjadi Desa Sumberdukun, ada cerita menarik dibalik menyatunya 3 dusun itu menjadi satu desa. Alkisah pada zaman dahulu sebelum adanya listrik memasuki desa, pepohonan rindang menutupi sebagian wilayah, zaman belum maju dan nenek moyang masih melakukan tradisi leluhur hiduplah seorang dukun bayi, pada saat dia membantu seorang ibu yang melahirkan tak dapat ditemukan air dimanapun dan sumber air yang sangat jauh, dukun bayi itu mencari-cari sumber air, ada beberapa versi menceritakan bahwa dukun itu menggali tanah hingga keluar sumber air ada versi lain yang mengatakan dukun itu menemukannya, sejak adanya cerita itu sumber air yang ditemukan oleh dukun bayi menjadi dumber kehidupan tiga dusun, oleh karena itulah tiga dusun menjadi satu dengan nama “Sumberdukun”.  Berikut detail cerita nama tiga dusun di desa Sumberdukun: ∬Dukuh Juron∬ Pada suatu masa berabad-abad lalu pada zaman kerajaan terdapat punggawa yang memiliki tugas sebagai juru playangan, orang yang bertugas mengantarkan surat dan pengumuman-pengumuman dari kerajaan, Punggawa itu konon bernama Ki Ageng Surohadipo, punggawa ini dikenal sangat arif, bijaksana, dan sangat baik kepada warga setempar, karena hal itulah untuk mengenang jasa dan kebaikan juru playangan maka daerah ity dinamakan “Juron” atau dalam kata lain yang berarti juru atau tempat tinggal juru. Hingga saat ini nama Juron hingga saat ini masih digunakan sebagai nama dukuh. Namun tidak ada peninggalan sejarah mengenai Ki Ageng Surohadipo atau dimana pemakamannya. ∬Dukuh Gentan∬ Alkisah di masa lampau yang teramat lama, saat kawasan masih berupa hutan rimba dan belum berpenghuni, daerah ini konon katanya menjadi salah satu tempat berkumpulnya para “gentho” atau bisa disebut sebagai perampok yang mencuri harta orang lain. Namun orang-orang gentho sudah musnah sejak bergenerasi-generasi lalu. Dari situlah nama Gentan berasal karena dari nama gentho. Kemudian dengan berjalan seiringnya waktu para generasi gento telah musnah dengan adanya generasi sekarang, adalah generasi yang berperilaku yang baik berakhlakul karimah. Dahulu dukuh gentan ini pernah di datangi oleh seorang pawingan yang berasal dari jawa tengah yaitu dari daerah Mataram, yaitu bernama Kyai Muhammad Jenal Ali. Pekerjaan beliau memberikan ajaran dan tuntunan agama islam kepada seluruh masyarakat yang tempat tinggalnya ia lewati. Kyai Muhammad Jenal Ali ini memiliki ilmu kewaskistaan yang tinggi. Selain memiliki ilmu keagamaan beliau juga memiliki ilmu – ilmu kerohaniaan serta ilmu – ilmu kadibyan yang lain. ilmu – ilmu itupun sebarkan dan diajarkan kepada penduduk daerah yang didatangi oleh Kyai Muhammad Jenal Ali. Atas kesepakatan dan persetujuan dari masyarakat setempat, kemudian beliau diangkat sebagai penguasa daerah tersebut. Namun setelah kyai Muhammad Jenal Ali meninggal dunia tidak ditemukan dimana tempat pemakamannya. Dan daerah ini oleh penduduk setempat dinamakan dukuh “GENTAN”,  karena merupakan tempat tinggal para gentho dan akhirnya daerah itu menjadi dukuh “GENTAN” sampai sekarang. ∬Dukuh Dakutah∬ Menurut dari beberapa sumber asal usul  dukuh “Dakutah” ada hubungannya dengan kewaskitaan pendatang dari Mataram yang bernama Kyai Muhammad Jenal Ali. Pendatang yang “jajah desa milangkori” dan singgah di dukuh Gentan tadi melanjutkan perjalanannya ke arah Utara. Mereka melalui daerah yang penuh dengan tanaman padi. Dimana – mana kelihatan padi yang menguning dan bahkan banyak yang telah dituai. Pada saat Kyai Muhammad Jenal Ali memasuki daerah pemukiman penduduk, sepanjang jalan yang dilewati banyak pececeran kulit padi (dalam Bahasa Jawa di sebut Dhedhak). Dhedhak tersebut dibawa menggunakan kuda (dalam bahasa Jawa disebut Jaran), pembawa kulit padi tersebut tidak mengetahui jika “dhedhak” yang dibawanya banyak berjatuhan dan tercecer disepanjang jalan. Karena banyak kulit padi atau dhedak yang berjatuhan atau bahasa jawa “kutah”, maka Muhammad Jenal Ali memberi nama daerah tersebut yaitu “DAKUTAH” (dari kata dhedhak dan kutah). Akhirnya daerah itu menjadi dukuh Dakutah sampai sekarang.