Luas wilayah Kelurahan Tawanganom Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan adalah 125,32 Ha, dengan kondisi topografi relatif datar dan berada diatas ketinggian 400 diatas permukaan air laut (dpl). Secara Administratif terdiri dari 3 dusun yaitu Tawangrejo, Kebaran, Nanom, terdiri dari 6 RW dan 49 RT
https://goo.gl/maps/BQsfnmeyFWXk1dQF7
ID Desa
97
Kode Desa
35.20.06.1011
Kecamatan
Magetan
Nama Desa
Tawanganom
Nama Kepala Desa
SAFAAT SETIA ROMANDON, S.STP
Kode Pos
63312
Telepon
351891284
Email
tawanganomb4ngkit@gmail.com
Alamat Kantor
Jln. Timor No. 49 MAGETAN - 63312


Kurang lebih tahun1600 Dukuh nanom merupakan sebuah Kadipaten, yakni Kadipaten Nanom. Pada saat itu  yang menjadi adipati adalah Mbah Amir atu Mbah Karjo Sari. Dalam pemerintahannya, beliau mengutamakan bidang pertanian dan kerohanian. Beliau adalah seorang sesepuh yang memiliki kewibawaan tinggi di mata masyarakat. Mbah Amir sangat tebal kepercayaannya serta keyakinanannya hidup manusia adalah karena Tuhan semata. Kepecayaan serta keyakinan inilah yang Mbah Amir ajarkan kepada masyarakat Dukuh Nanom. Jadi tidaklah mengherankan apabila paa waktu itu penduduk kadipaten Nanom menyembah kepada Tuhan dan mengutamakan kesucian. Kejujuran menurutnya merupakan salah satu modal utama untuk mengabdi kepada tuhan. Masyarakat setempat gemar bekerja keras, khususnya di bidang pertanian guna kelestarian hidupnya. Mbah Amir meninggal dunia pada tahun 1615 kemudian dimakamkan di Dukuh Tawang sebelah barat. Makam tersebut kemudian dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai makam keramat. Oleh sebab itu masyarakat mengadakan upacara adat berupa bersih desa dalam bentuk yang sederhana. Banyak masyarakat yang berziarah ke makam Mbah Amir dengan tujuan agar Tuhan memberkahi jiwa semangat kejujuran almarhum dan semoga Tuhan menghindarkan dari kesulitan hidup. Mbah Amir meninggalkan dua anak laki-laki, yang pertama Wiromandi, yang kedua Wiroamir, dan satu orang putri bernama Roro Mambu. Ketika ditinggal oleh Mbah Amir, ketiga orang tersebut sudah dewasa. Putri Roro Mambu terkenal dengan wajah cantik dan rupawan. Dia selalu menjadi buah bibir penduduk setempat. Banyak remaja yang terpikat hatinya dan ingin untuk memperistri Roro Mambu. Bahkan Raja Surakarta Hadiningrat saat itu ingin mempersunting sang putri sebagai garwa selir. Maka suatu hari raja Surakarta mengirim utusan ke Kadipaten Nanom untuk melamar Putri Roro Mambu. Lamaran ini diterima oleh alm Amir. Diwakili oleh Wionandi, mengizinkan adiknya dijadikan garwa selir dengan syarat bahwa Wironandi diangkat menjadi adipati di Dukuh Nanom menggantikan kedudukan ayahnya. Akhirnya, Raja mengabulkan permintaan tersebut. Wironandi jadi adipati di Dukuh Nanom dengan menggantikan kedudukan almarhum ayahnya. Untuk menetapkan kedudukan Wironandi menjadi adipati di Dukuh Nanom, maka Raja mengutus salah satu kerabat keratin untuk mengesahkan kedudukan Wironandi. Sedangkan Wiroamir menjadi demang di Dukuh Tawang dengan sebutan Ki Ageng Tawang. Putri Roro Mambu diboyong ke Surakarta dan resmi menjadi garwa selir. Berbeda dengan sifat ayahnya, Wironandi sangat angkuh dan kurang memperhatikan rakyatnya. Masyarakat akhirnya tidak simpatik dengan kepemimpinannya yang bersikap acuh tak acuh. Sampai-sampai Wironandi tidak memperhatikan nasib adik perempuannya yang sedang berada di keratin Surakarta. Suatu ketika, Wiroamir mendengar kabar kalau adiknya merana di Keraton. Mendengar kabar tersebut, Wiroamir berangkat ke Surakarta untuk membutikannya. Ternyata berita tersebut benar bahwa Raja tidak memperhatikan garwa selirnya ini. Keadaan ini disampaikan kepada Wironandi. Tetapi, Wironandi tidak percaya, sehingga terjadi adu mulut. Akhirnya terjadi pertarungan hebat antara Wironandi dan Wiroamir. Kemampuan perang masing-masing sudah terlatih, mulai jurus ringan sampai jurus berat saling disajikan dalam menggempur pertahanan lawan. Tidak hanya itu saja, ilmu gaib yang sudah tersimpan dalam hati sanubari masing-masing terpaksa digunakan. Mereka sangat jengkel karena memiliki kekuatan yang sama. Akhirnya mereka menggunakan benda tajam, mereka saling mencari kelemahan lawan dan mengibas-ibaskan senjatanya. Wironandi akhirnya lengah dan akhirnya meninggal dunia. Kaki Wironandi yang putus akhirnya ditanam dan tumbuh pohon bulu. Wiroamir akhirnya melanjutkan kedudukan kakaknyadi Dukuh Nanom dan Dukuh Tawang lalu digabung menjadi Tawanganom. Putri Roro Mambu akhirnya melarikan diri dari keratin dan kembali ke Dukuh Tawang. Karena kesaktian dan kecantikannya, Roro Mambu masih menjadi rebutan para remaja di Desa Tawangano dan Kepolorejo. Ditulis oleh : Mei Prasetyosari, A.Md.